Atasi Stunting di Bangkalan, Intervensi Gizi Dilakukan Tim Dosen dan Mahasiswa UTM di Desa Sanggra Agung

 

SANGGRA AGUNG – Secara global, stunting masih menjadi tantangan besar. Berdasar data WHO, jutaan anak di seluruh dunia mengalami stunting dengan mayoritas berada di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, prevalensi stunting masih tergolong tinggi meskipun telah menunjukkan tren penurunan.

Penurunan stunting menjadi prioritas nasional melalui berbagai program, seperti intervensi gizi spesifik pemberian makanan tambahan.Melalui program pengabdian kepada masyarakat BIMA, tim pengabdian dosen Universitas Tunojoyo Madura (UTM) merealisasikan kegiatan prevensi stunting di Kabupaten Bangkalan.

Mengusung judul kegiatan Optimalisasi Inovasi Pangan dan Edukasi Digital sebagai Langkah Preventif Stunting di Kabupaten Bangkalan Madura, pengabdian masyarakat ini didanai oleh DRTPM DIKTI.

”Penanganan stunting sangat mendesak karena dampaknya yang irreversible (tidak dapat pulih sepenuhnya) jika tidak ditangani pada masa kritis. Intervensi yang efektif harus dilakukan secara terpadu, mulai dari gizi tambahan, edukasi, hingga lingkungan.” Ujar ketua pelaksana M. Masqotul Imam Romadlani, dosen UTM.

Keberhasilan penanganan stunting tidak hanya akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), tetapi juga berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan bangsa secara keseluruhan.”Pelatihan pemberian makanan tambahan (PMT) ini memiliki peran yang sangat besar dan strategis dalam upaya mencegah stunting pada balita. PMT tidak sekadar memberikan makanan ekstra, tetapi merupakan intervensi gizi yang terukur untuk memastikan balita mendapatkan nutrisi yang cukup,” tutur Herlinda selaku bidan desa yang juga berpartisipasi kegiatan ini.

”Hari ini kami tidak hanya mendapatkan wawasan, tetapi juga keterampilan membuat makanan bayi bergizi melalui praktik pembuatan beberapa menu dalam pelatihan ini,” sambungnya.Selain memberikan pelatihan, tim pengabdian masyarakat ini juga menghibahkan beberapa peralatan pembuatan makanan bergizi untuk bayi.

Hal itu merupakan bentuk langkah nyata agar bisa membantu kader posyandu maupun masyarakat dalam proses pembuatan makanan yang lebih higienis dan bergizi. Dalam kegiatan ini, peserta posyandu juga mendapatkan bekal pemahaman tentang komposisi penting yang harus tersedia dalam sajian makanan balita, yaitu karbohidrat, protein, dan lemak yang menjadi nutrisi penting dalam tumbuh kembang balita.

Mereka juga diberi pemahaman tentang berbagai risiko yang terjadi akibat stunting serta upaya pencegahan yang dapat dilakukan.

Post a Comment

0 Comments

Post a Comment (0)